Iran Menolak Tawaran Gencatan Senjata AS dari PM Irak

Iran Menolak Tawaran Gencatan Senjata AS dari PM Irak

donmckayfilm – Iran menolak usulan gencatan senjata dari Amerika Serikat yang disampaikan melalui Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi. Penolakan tersebut terjadi ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung dan telah memasuki hampir dua pekan.

Menurut laporan The New York Times yang mengutip pejabat Iran dan Irak, al-Zaidi membawa usulan tersebut saat melakukan kunjungan resmi ke Teheran. Kunjungan itu berlangsung setelah dirinya bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih.

“Baca Juga: Andy Burnham Setujui Penggunaan Pangkalan Inggris oleh AS”

Meski rincian proposal belum dipublikasikan secara lengkap, pejabat Iran menyebut usulan tersebut merupakan satu-satunya tawaran yang diterima Teheran hingga saat ini. Namun, pemerintah Iran memutuskan untuk tidak menerimanya.

Sengketa Selat Hormuz Jadi Alasan Penolakan Iran

Pejabat Iran menyatakan bahwa usulan gencatan senjata tidak menjawab persoalan utama yang menjadi sumber sengketa. Salah satu isu yang dinilai belum terselesaikan adalah kendali atas Selat Hormuz.

Menurut laporan tersebut, Teheran menilai proposal yang dibawa Ali al-Zaidi belum memberikan solusi terhadap masalah strategis tersebut. Karena alasan itu, pemerintah Iran memilih menolak tawaran yang diajukan.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap kawasan tersebut dapat memengaruhi distribusi minyak dan gas ke berbagai negara.

Penolakan Iran menunjukkan bahwa penyelesaian konflik masih menghadapi tantangan besar. Isu keamanan kawasan dan kepentingan strategis tetap menjadi fokus utama dalam setiap upaya diplomatik.

Kunjungan Perdana Menteri Irak Bahas Hubungan Bilateral dan Stabilitas Kawasan

Kunjungan Ali al-Zaidi ke Teheran merupakan lawatan resmi pertamanya sejak menjabat sebagai Perdana Menteri Irak pada Mei 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia memimpin delegasi yang terdiri atas sejumlah menteri senior.

Al-Zaidi bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk membahas berbagai isu bilateral. Agenda pembahasan juga mencakup perkembangan situasi regional serta upaya memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan.

Menurut pejabat Iran, kedua negara turut membahas implementasi berbagai perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Iran dan Irak juga menyerukan peningkatan kerja sama di berbagai sektor.

Bidang yang menjadi perhatian meliputi perdagangan, energi, transportasi, hingga urusan regional. Kedua pemerintah menilai kerja sama tersebut penting untuk menjaga hubungan bilateral di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Media lokal Iran juga melaporkan bahwa al-Zaidi bertemu dengan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang juga dikenal sebagai kepala negosiator Iran. Selain itu, ia melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Iran Bersiap Hadapi Kemungkinan Konflik yang Lebih Luas

Laporan The New York Times menyebut para pejabat Iran kini mulai mempersiapkan berbagai skenario apabila konflik semakin meluas. Langkah tersebut diambil setelah muncul ancaman baru dari Presiden Donald Trump.

Dua pejabat Iran menyatakan bahwa Teheran akan memperluas respons militernya apabila Amerika Serikat kembali menyerang ibu kota Iran maupun infrastruktur penting lainnya.

Menurut sumber tersebut, salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah meningkatkan serangan terhadap Tel Aviv. Selain itu, Iran disebut dapat meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandab.

Selat Bab al-Mandab merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi memengaruhi arus perdagangan internasional.

Meski demikian, skenario tersebut masih berupa pernyataan pejabat Iran mengenai kemungkinan respons apabila serangan baru benar-benar terjadi.

“Baca Juga: PlayStation Vita Kini Bisa Mainkan Halo dan Forza”

Konflik AS-Iran Terus Berlanjut dan Berdampak pada Kawasan

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi militernya terhadap target di Iran telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut hingga Jumat, 24 Juli 2026.

Di pihak Iran, otoritas setempat melaporkan pada Rabu, 22 Juli 2026, bahwa jumlah korban tewas akibat rangkaian serangan Amerika Serikat mencapai 53 orang. Sebanyak 592 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump pada 8 Juli 2026 menyatakan bahwa nota kesepahaman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang disepakati pada bulan sebelumnya tidak lagi berlaku.

Sejak saat itu, kedua negara terus melancarkan serangan balasan. Amerika Serikat berfokus pada sasaran di dalam wilayah Iran, sementara Teheran mengklaim telah menyerang berbagai fasilitas serta peralatan militer Amerika Serikat di sejumlah negara di kawasan.

Konflik yang terus berlangsung juga berdampak terhadap aktivitas pelayaran internasional. Gangguan di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, sementara penutupan wilayah udara secara berkala dan peningkatan status kewaspadaan terhadap aset Amerika Serikat di luar Timur Tengah turut mencerminkan meluasnya dampak konflik di kawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *