donmckayfilm – Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik jarak menengah seri Qadr missile dalam serangan terhadap wilayah Israel. Serangan ini terjadi dalam eskalasi konflik terbaru antara Iran dengan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Konflik tersebut bermula setelah Israel, dengan dukungan Amerika Serikat, melancarkan serangan udara ke beberapa kota di Iran. Operasi militer tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis dan pangkalan militer.
“Baca Juga: Serangan Israel Tewaskan Komandan Jihad Islam”
Sejak saat itu, ketegangan meningkat dengan cepat. Hingga 3 Maret, konflik telah meluas dan menyebabkan lebih dari 550 korban jiwa, sebagian besar berada di wilayah Iran.
Perang yang awalnya terbatas antara dua negara kini mulai melibatkan kawasan yang lebih luas di Timur Tengah. Negara-negara Teluk ikut terdampak akibat serangan balasan dan operasi militer lanjutan.
Rudal Qadr Jadi Andalan Serangan Jarak Menengah Iran
Rudal Qadr merupakan bagian dari keluarga sistem balistik Ghadr-110 missile yang dikembangkan oleh Iran. Sistem ini dirancang untuk menyerang target dalam jarak jauh dengan kemampuan mobilitas tinggi.
Rudal tersebut memiliki jangkauan operasional sekitar 1.800 hingga 2.000 kilometer. Dengan jangkauan tersebut, sistem ini mampu menjangkau wilayah Israel dari berbagai lokasi peluncuran di Iran.
Sistem Qadr sebelumnya telah dipamerkan dalam berbagai latihan militer Iran. Rudal ini menjadi salah satu komponen utama dalam strategi pertahanan dan serangan jarak jauh negara tersebut.
Dalam konflik terbaru, rudal Qadr digunakan untuk menghantam target di Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Target tersebut termasuk fasilitas militer di negara seperti Kuwait, Qatar, Saudi Arabia, dan United Arab Emirates.
Varian Qadr Memiliki Kemampuan Multi-Warhead
Seri rudal Qadr memiliki beberapa varian dengan kemampuan berbeda. Salah satunya adalah Qadr-H yang dilaporkan memiliki kemampuan membawa beberapa hulu ledak atau multi-warhead.
Teknologi tersebut memungkinkan satu rudal membawa lebih dari satu muatan yang dapat menyerang beberapa target sekaligus. Sistem ini sering disebut sebagai konfigurasi cluster modular.
Varian lain adalah Qadr-F yang memiliki jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer. Varian ini sering dijuluki sebagai “Israel Killer” karena mampu menjangkau hampir seluruh wilayah Israel dari Iran.
Meski bukan sistem rudal paling modern yang dimiliki Iran, seri Qadr bersama sistem Emad missile tetap menjadi tulang punggung kekuatan balistik negara tersebut. Rudal-rudal ini digunakan secara luas dalam berbagai operasi militer sebelumnya.
Serangan AS-Israel Picu Konfrontasi Besar
Konflik terbaru dimulai setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan udara besar terhadap berbagai target di Iran. Operasi tersebut menargetkan pangkalan militer serta fasilitas yang dianggap berkaitan dengan kepemimpinan strategis Iran.
Serangan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk melemahkan kemampuan militer Iran. Amerika Serikat dan Israel juga menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan menghambat ancaman strategis yang mereka kaitkan dengan program militer Iran.
Beberapa pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan tersebut menewaskan sejumlah tokoh penting Iran. Salah satu yang dilaporkan tewas adalah Ali Khamenei. Iran kemudian mengonfirmasi kematian pemimpin tertingginya tersebut. Peristiwa ini menjadi titik balik besar dalam konflik antara Iran dengan negara-negara yang terlibat.
“Baca Juga: Baseus Nomos 245W Tampil dengan Layar dan Qi2″
Konflik Meluas ke Negara-Negara Teluk
Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone. Serangan ini menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika di beberapa negara Teluk. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan korban jiwa baik dari kalangan militer maupun sipil. Situasi keamanan di kawasan pun semakin memburuk.
Konflik juga melibatkan kelompok milisi sekutu Iran di kawasan. Salah satunya adalah Hezbollah di Lebanon yang turut meluncurkan roket ke wilayah Israel.
Serangan dari Lebanon tersebut memicu aksi militer lanjutan dari Israel terhadap posisi milisi di wilayah tersebut. Ketegangan pun semakin meningkat di perbatasan Lebanon dan Israel.
Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas. Banyak negara dan organisasi internasional kini menyerukan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.