ADATA Sebut Krisis DRAM Bisa Bertahan hingga 10 Tahun

ADATA Sebut Krisis DRAM Bisa Bertahan hingga 10 Tahun

donmckayfilm – Kelangkaan memori DRAM diperkirakan masih akan menjadi tantangan besar bagi industri teknologi dalam beberapa tahun mendatang. Jika sebelumnya sejumlah analis memperkirakan kondisi tersebut dapat mereda sekitar 2028 hingga 2030, Ketua ADATA, Chen Libai, justru menilai situasinya berpotensi berlangsung jauh lebih lama.

Dalam pandangannya, tingginya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan atau AI membuat kebutuhan memori terus meningkat. Akibatnya, keseimbangan antara pasokan dan permintaan diperkirakan belum akan tercapai dalam waktu dekat.

“Baca Juga: Modern Warfare 4 Umumkan Jadwal Early Access dan Beta”

Pernyataan tersebut mencerminkan besarnya perubahan yang sedang terjadi di industri semikonduktor. Pertumbuhan pusat data AI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan kebutuhan komponen memori dalam skala global.

Chen Libai Nilai Terlalu Dini Membahas Akhir AI Bubble

Dalam laporan yang dikutip Commercial Times, Chen Libai menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan kapan tren pertumbuhan AI atau AI bubble akan berakhir. Menurutnya, perkembangan industri saat ini masih menunjukkan peningkatan permintaan yang sangat kuat.

Ia bahkan menyebut pembahasan mengenai berakhirnya AI bubble kemungkinan baru lebih relevan setelah memasuki dekade berikutnya. Menurut Chen, pertanyaan mengenai apakah tren tersebut masih bertahan hingga 2040 atau bahkan 2050 baru dapat dijawab setelah melewati tahun 2030.

Pernyataan tersebut menggambarkan keyakinannya bahwa perkembangan teknologi AI masih memiliki ruang pertumbuhan yang panjang. Selama permintaan terus meningkat, kebutuhan terhadap komponen pendukung seperti memori juga diperkirakan akan terus bertambah.

Pandangan tersebut berbeda dengan sejumlah prediksi yang memperkirakan pasar akan mulai stabil dalam beberapa tahun ke depan.

Permintaan AI Datacenter Dorong Kebutuhan DRAM Terus Meningkat

Chen menjelaskan bahwa pola permintaan memori saat ini berbeda dibandingkan siklus industri sebelumnya. Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya pembangunan pusat data yang dirancang khusus untuk menjalankan berbagai layanan berbasis AI.

Pusat data modern membutuhkan kapasitas memori yang jauh lebih besar dibandingkan infrastruktur komputasi konvensional. Proses pelatihan maupun inferensi model AI memerlukan DRAM dalam jumlah besar untuk mendukung pemrosesan data secara cepat.

Selain memori, pertumbuhan pusat data juga meningkatkan kebutuhan terhadap penyimpanan, infrastruktur energi, serta berbagai komponen pendukung lainnya. Permintaan tersebut terus meningkat seiring semakin luasnya pemanfaatan AI di berbagai sektor industri.

Menurut Chen, kondisi ini membuat pasar memori menghadapi tekanan yang berbeda dibandingkan periode-periode sebelumnya ketika permintaan lebih banyak didorong oleh komputer pribadi atau perangkat seluler.

Konsumsi Energi Ikut Naik Seiring Ekspansi Industri AI

Selain kebutuhan memori, Chen juga menyoroti meningkatnya konsumsi energi sebagai konsekuensi dari pertumbuhan industri AI. Infrastruktur pusat data membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar agar dapat menjalankan ribuan prosesor dan akselerator AI secara terus-menerus.

Ia mencontohkan meningkatnya kebutuhan energi yang juga dirasakan oleh berbagai perusahaan di industri semikonduktor, termasuk TSMC. Pertumbuhan kapasitas produksi dan meningkatnya aktivitas komputasi menyebabkan konsumsi listrik terus bertambah.

Menurut Chen, dalam sepuluh tahun mendatang dua sumber daya yang diperkirakan menjadi paling langka adalah memori dan listrik. Kedua faktor tersebut dinilai akan menjadi elemen penting yang menentukan kemampuan industri dalam memenuhi permintaan teknologi AI.

Peningkatan kebutuhan energi juga menjadi tantangan bagi banyak negara yang berupaya memperluas kapasitas pusat data tanpa mengganggu stabilitas pasokan listrik nasional.

“Baca Juga: Konsumsi Listrik TSMC Sentuh 9%, Diminta Mandiri Energi”

Produsen Memori Dinilai Masih Berhati-hati Menambah Kapasitas

Meski permintaan terus meningkat, Chen menilai produsen chip memori tetap berhati-hati dalam memperluas kapasitas produksi. Menurutnya, pembangunan fasilitas baru membutuhkan investasi yang sangat besar serta waktu bertahun-tahun sebelum dapat beroperasi secara penuh.

Keraguan untuk melakukan ekspansi dalam skala besar berpotensi membuat pasokan DRAM tetap terbatas ketika permintaan terus bertambah. Kondisi tersebut dapat memperpanjang periode kelangkaan memori di pasar global.

Apabila prediksi Chen terbukti, industri teknologi kemungkinan masih akan menghadapi tekanan pasokan DRAM dalam jangka panjang. Produsen perangkat keras, penyedia pusat data, hingga perusahaan pengembang AI perlu terus menyesuaikan strategi mereka dengan kondisi pasar yang berubah.

Meski demikian, proyeksi yang disampaikan Ketua ADATA merupakan pandangan berdasarkan kondisi industri saat ini. Perkembangan teknologi manufaktur, investasi baru, serta perubahan permintaan pasar tetap dapat memengaruhi keseimbangan pasokan dan kebutuhan memori pada tahun-tahun mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *