China Bangun Pusat Data Bawah Laut Bertenaga Angin untuk Digital Berkelanjutan

China Bangun Pusat Data Bawah Laut Bertenaga Angin untuk Digital Berkelanjutan

donmckayfilm – Tiongkok sedang melakukan investasi besar dalam teknologi digital. Termasuk kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan, sebagai bagian dari upaya memajukan perekonomian negara. Salah satu proyek ambisius yang sedang berlangsung adalah pembangunan pusat data yang bertujuan meningkatkan daya komputasi yang diperlukan untuk mendukung berbagai aplikasi AI. Namun, tantangan besar muncul: pusat data ini memerlukan energi yang sangat besar dan mengonsumsi ratusan ribu galon air setiap harinya untuk mendinginkan panas yang dihasilkan oleh server.

“Baca Juga: Pemerintah Rencanakan 32% Jaringan 5G Indonesia Terhubung pada 2030″

KONFLIK ANTARA KEBUTUHAN ENERGI DAN KEBUTUHAN AIR

Pembangunan pusat data di berbagai belahan dunia sering kali terletak di wilayah yang kering, seperti Arizona, Spanyol, dan Timur Tengah. Lokasi tersebut dipilih untuk menghindari kelembapan tinggi yang bisa merusak perangkat keras. Namun, pusat data ini menguras banyak sumber daya alam, terutama air. Yang juga dibutuhkan untuk keperluan manusia seperti pertanian dan konsumsi sehari-hari. Tiongkok kini menghadapi dilema besar, karena keberlanjutan proyek infrastruktur digital ini mengancam ketahanan pasokan air bagi kehidupan manusia.

INOVASI PUSAT DATA BAWAH LAUT SEBAGAI SOLUSI RAMAH LINGKUNGAN

Sebagai solusi untuk krisis air ini, Tiongkok telah meluncurkan proyek pusat data bawah laut yang berlokasi sekitar enam mil dari lepas pantai Shanghai. Pusat data ini didesain untuk menggunakan air laut sebagai sistem pendinginan alami untuk menjaga suhu server tetap stabil. Dengan menggunakan teknologi ini, proyek tersebut akan mengurangi konsumsi listrik. Sebesar 30 persen dibandingkan dengan pusat data konvensional yang terletak di daratan.

EFISIENSI ENERGI DARI PENGGUNAAN ENERGI ANGIN LEPAS PANTAI

Keunggulan lain dari pusat data bawah laut ini adalah penggunaan sumber energi terbarukan. Pusat data tersebut akan terhubung dengan ladang angin lepas pantai. Yang dapat memasok sekitar 97 persen kebutuhan energi pusat data tersebut. Hal ini menjadikannya sebagai contoh proyek infrastruktur digital yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil.

PERGESERAN MENUJU INFRASTRUKTUR DIGITAL BERKELANJUTAN

Proyek pusat data bawah laut ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam hal infrastruktur digital yang lebih ramah lingkungan dan rendah karbon. Shabrina Nadhila, analis energi di Ember, menjelaskan bahwa langkah Tiongkok ini memiliki potensi untuk mengubah norma global dalam pengembangan pusat data yang berkelanjutan. Selain itu, pendekatan inovatif ini mungkin akan menjadi referensi bagi negara lain yang juga menghadapi tantangan serupa dalam mengelola sumber daya alam yang terbatas.

“Baca Juga: Apple Dapat 15% Dari WeChat, Kesepakatan Baru Terbentuk”

PELUANG UNTUK MENGUBAH PENGEMBANGAN TEKNOLOGI DIGITAL DI MASA DEPAN

Dengan munculnya pusat data bawah laut yang efisien dan ramah lingkungan. Tiongkok berharap dapat menciptakan solusi berkelanjutan untuk mendukung pengembangan teknologi digital di masa depan. Penerapan teknologi ini tidak hanya akan mengurangi dampak lingkungan. Tetapi juga membuka jalan bagi inovasi lebih lanjut dalam hal pengelolaan sumber daya alam secara lebih efisien. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan komputasi dan data dalam era digital, solusi seperti pusat data bawah laut akan semakin relevan dalam menciptakan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan keberlanjutan lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *