Misi Penyelamatan Badak Kalimantan Terakhir Dimulai

Penyelamatan Badak Kalimantan

Jejak Najaq yang Mengubah Perhatian Publik

Pada 2015, kamera jebak merekam seekor badak betina di Kutai Barat. Tim konservasi kemudian menamainya Najaq. Temuan ini membuktikan bahwa badak Kalimantan belum punah.
Namun, harapan itu tidak bertahan lama. Najaq terluka akibat jerat dan ditangkap untuk perawatan. Luka kakinya tidak kunjung sembuh hingga akhirnya mati pada 2016. Tragedi ini menjadi peringatan serius bahwa setiap individu sangat berharga.

Pari, Satu-Satunya Badak yang Masih Bertahan

Di hutan Mahakam Ulu, seekor betina bernama Pari hidup sendirian. Ia sulit ditemui, hanya meninggalkan jejak samar. Para peneliti menjulukinya “doom rhino” karena ia tidak memiliki pasangan jantan.
Kesendirian Pari berarti ancaman besar. Ia tidak bisa berkembang biak, sementara usia terus bertambah. Setiap hari di alam liar mempersempit peluang pelestarian spesies.

Baca Juga : “Agnez Mo Bintangi Reacher Season 4, Peran Mengejutkan!

Ancaman yang Mengintai di Mahakam Ulu

Habitat Pari tampak hijau dari kejauhan, tetapi risiko sangat tinggi. Aktivitas perambahan, pembukaan lahan, dan perburuan masih terjadi. Kondisi ini membuat hidup Pari rapuh.
BKSDA Kaltim menegaskan bahwa ancaman di alam liar tidak bisa diprediksi. Risiko deforestasi, penyakit, hingga jerat pemburu bisa mengakhiri hidup Pari kapan saja.

Suaka Badak Kelian, Harapan Baru

Untuk menyelamatkan Pari, tim konservasi menyiapkan Suaka Badak Kelian (SBK) di Kutai Barat. Fasilitas ini memiliki area khusus dengan kubangan, bambu, dan pakan alami.
Di SBK, badak bisa dipantau secara langsung, mendapat perawatan, serta masuk program pengembangbiakan. Badak betina lain, Pahu, sudah lebih dulu dipindahkan ke sini pada 2018 dan berhasil beradaptasi.

Tantangan Pemindahan Pari

Proses pemindahan Pari membutuhkan persiapan matang. Tim harus menangkapnya dengan aman, lalu menempatkannya di boma atau kandang adaptasi. Setelah itu, Pari akan dibawa menggunakan peti khusus menuju SBK.
Operasi ini memerlukan koordinasi banyak pihak, mulai dari pemerintah, lembaga konservasi internasional, hingga masyarakat lokal. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal bagi Pari.

Teknologi Reproduksi Membuka Jalan

Meski tidak ada jantan di Kalimantan, peluang Pari berkembang biak tetap terbuka. Teknologi assisted reproductive technology (ART) memungkinkan sel telur Pari dibuahi dengan sperma badak Sumatera.
Karena keduanya masih satu spesies, embrio hasil pembuahan dapat ditanam kembali. Dengan metode ini, Pari bisa menjadi induk bayi badak Kalimantan di masa depan.

Pentingnya Peran Indonesia

Setelah kematian Iman, badak terakhir di Malaysia pada 2019, Indonesia memegang peran kunci. Populasi global badak Kalimantan diperkirakan tinggal kurang dari 80 ekor.
Keberhasilan translokasi Pari akan menegaskan posisi Indonesia sebagai negara penentu keberlanjutan spesies ini.

Kerja Sama Kolektif Menjadi Penentu

Upaya penyelamatan Pari membutuhkan dukungan kolektif. Pemerintah, organisasi lingkungan, akademisi, hingga masyarakat lokal harus terlibat aktif.
Tanpa kerja sama, ancaman kepunahan semakin dekat. Dengan kolaborasi, peluang lahirnya generasi baru badak Kalimantan tetap terbuka.

Penutup: Dari Kesepian Menuju Harapan

Pari masih menunggu di hutan Mahakam Ulu. Setiap hari yang ia lewati adalah pertaruhan besar. Pemindahannya ke SBK bisa membuka babak baru.
Misi ini bukan hanya menyelamatkan seekor badak, melainkan menjaga warisan genetik yang tersisa di bumi. Dari satu individu kesepian, lahir harapan baru untuk masa depan badak Kalimantan.

Baca Juga : “Mbappe Terus Tajam, Paling Subur di Eropa Sejak Awal Musim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *